Naif Al’as | What Did I Write?

Pemikiran Amatir Seorang Naif

Tamasya Banjir Jakarta, Antara Tanah Abang – Kota

leave a comment »

Sampai hari ini, banjir masih terus berlangsung di ibukota negara Indonesia, Jakarta. Malah cenderung ada peningkatan jumlah tempat dan volume banjir. Sore tadi sekitar pukul 16:00 WIB saya berkeliling sekitar Tanah Abang – Kota. Akses yang biasanya saya tempuh lewat kawasan Jati Baru, Tanah Abang, kini sudah tertutup oleh banjir. Sangat riskan bila dilewati oleh sepeda motor kepunyaan saya. Putar arah untuk melewati jalan alternatif seperti Jl. Lontar pun tidak bisa, karena kawasan tersebut juga sudah digenangi air setinggi paha orang dewasa. Akhirnya mau tidak mau saya memutar lewat Slipi menuju arah Semanggi dan berbelok melewati jalan Sudirman. Dijalur lambat saya pun berjalan pelan sambil melihat-lihat situasi sekitar. Yang pertama saya jumpai adalah masih adanya banjir di kawasan Bendungan Hilir. Lalu saya terus jalan menuju arah Dukuh Atas. Sempat saya memperlambat laju sepeda motor saya kembali ketika melintas di atas jembatan Dukuh Atas. Di terowongan dibawahnya air sudah hampir menutupi lampu lalu lintas.
Ketika saya sampai di Jl. MH. Thamrin, tepatnya di depan kawasan Sarinah, rupanya disana pun terendam air, sehingga tidak memungkinkan untuk dilewati kendaraan.
Berlalu terus sepeda motor saya, ketika melewati Istana Negara, saya sempat melihat ada sebuah mobil pemadam kebakaran terparkir disana. Mungkin itu untuk persiapan penyedotan air jika akhirnya Istana Negara pun terendam oleh banjir.
Jalanan sangatlah kondusif karena tidak terlalu ramai kendaraan yang ada, sehingga tidak ada kemacetan. Banyak juga lampu-lampu lalu lintas yang tidak berfungsi.
Melintasi Jl. Gajah Mada, air dari Kali Krukut sudah hampir meluber ke jalan raya. Hanya tinggal sejengkal saja, jika Bogor tetap ‘berbaik hati’ mengirimkan ‘paket air’ nya lagi, saya rasa banjir di daerah Kota tinggal menunggu waktu saja. Begitupula keadaan diseberangnya, tepatnya di Jl. Hayam Wuruk, tidak jauh berbeda.
Perjalanan pulang, sengaja saya melintasi Jl. Musi untuk tembus ke daerah Petojo yang aman dari banjir, sebagai jalan pintas menuju daerah Roxy. Kira-kira 200 meter menjelang ITC Roxy Mas, jalan raya sudah terendam dengan air bah. Kembali saya pun memutar sepeda motor saya melawan arah lalu berbelok ke kanan melewati Jl. Biak yang sampai saat sore tadi masih aman dari terjangan banjir.
Dari atas jembatan Tomang saya mengamati bagaimana daerah tersebut terkubur dengan air disekelilingnya, bahkan setelah menuruni jembatan tersebut kita sudah dihadang oleh air bah. Kesempatan ini banyak digunakan oleh orang-orang sekitar untuk mengais rejeki dengan memanfaatkan ojek gerobak untuk mengangkut sepeda motor melewati banjir. Namun saya kurang tahu berapa pastinya biaya yang dibutuhkan untuk menggunakan jasa dari ojek gerobak tersebut.
Saya memutuskan untuk pulang melewati Cideng lalu naik ke atas flyover Jati Baru. Baru dengan agak jelas saya mengetahui seberapa parah banjir yang menerjang daerah tersebut.
Sebelum akhirnya saya sampai dengan selamat ke rumah, daerah Petamburan, Tanah Abang dengan melewati Jl. KH. Mas Mansyur, belok ke kanan menuju Slipi kembali, saya menyempatkan diri untuk melihat keadaan di pasar Tanah Abang. Rupanya banjir dikawasan tersebut dimulai dari tempat gedung bioskop lama sampai dengan jalanan depan stasiun kereta api Tanah Abang yang juga tembus ke jembatan Jati Baru.
Banjir kali ini benar-benar parah melebihi banjir yang terjadi pada 5 tahun sebelumnya, yakni tahun 2002. Namun yang mengherankan, kenapa kita mau menjadi seperti keledai yang jatuh ke dalam lubang yang sama lebih dari dua kali. Rupanya, kemegahan kota Jakarta hanyalah tipuan mata belaka karena di dalamnya ternyata sangat kropos. Perencanaan Tata Kota yang tidak baik (atau tidak berjalan semestinya?) menjadi salah satu pemeran penting dalam musibah banjir tahun 2007 ini di Jakarta. Perlunya kesadaran dari Pemerintah Daerah (Pemda) DKI Jakarta dalam hal ini, serta juga peningkatan kesadaran masyarakat terhadap salah satu peran mereka juga (sampah?) dalam banjir ini.


Catatan: Sampai malam ini ketika tulisan ini dibuat, penulis hanyalah mengandalkan kekuatan
batere dari
komputer serta telepon starone untuk koneksi internet. Karena listrik dan telepon sudah memasuki hari ketiga tidak berfungsi.

Written by Naif Al'as

Sunday, 4 February 2007 at 21:18

Posted in Kehidupan, Kritik, Opini

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: